
Lanskap ancaman siber saat ini berkembang dengan sangat cepat dan makin kompleks. Mulai dari serangan ransomware-as-a-service, kerentanan pada software supply chain, hingga risiko dari integrasi kecerdasan buatan (AI), organisasi modern kini dihadapkan pada permukaan serangan (attack surface) yang jauh lebih luas.
Dampak dari insiden siber maupun unplanned downtime bukan lagi sekadar gangguan teknis, melainkan kerugian finansial yang masif. Rata-rata perusahaan Global 2000 diperkirakan mengalami kerugian sekitar $200 juta per tahun akibat downtime yang tidak terencana. Selain kerugian operasional, reputasi, loyalitas pelanggan, hingga kepatuhan hukum juga ikut terancam.
Mengapa Pendekatan Keamanan Tradisional Tidak Lagi Cukup?
Selama ini, banyak organisasi berfokus pada strategi reaktif—baru bertindak setelah ancaman terdeteksi. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Chris Millington, pakar ketahanan siber global di Hitachi Vantara, pendekatan reaktif yang digunakan selama 15–20 tahun terakhir kini harus bergeser. Bisnis perlu bertindak lebih proaktif, memanfaatkan threat intelligence, serta berfokus pada resiliensi sistem dan kelangsungan bisnis secara menyeluruh.
Faktor-faktor yang memperrumit lanskap siber saat ini meliputi:
-
Risiko Pihak Ketiga & Supply Chain: Serangan tidak selalu menyasar target secara langsung, melainkan melalui vendor, penyedia layanan, atau pihak ketiga yang terhubung.
-
Kesenjangan Keterampilan Siber (Cyber Skills Gap): Kebutuhan akan tenaga ahli yang mampu mengelola ancaman berkecepatan tinggi.
-
Teknologi AI & Emerging Tech: Pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan siber membuat serangan menjadi lebih presisi dan masif.
-
Regulasi yang Makin Ketat: Peraturan seperti EU DORA menuntut manajemen risiko TI yang jauh lebih komprehensif.
Langkah Strategis Mewujudkan Ketahanan Siber
Untuk mengatasi lanskap risiko ini, kepemimpinan organisasi bersama mitra teknologi perlu mengambil langkah-langkah konkret:
-
Membangun Budaya Resiliensi dari Tingkat Eksekutif
Ketahanan siber bukan sekadar urusan tim IT, melainkan tanggung jawab strategis level jajaran pimpinan (C-suite). Diperlukan edukasi keamanan yang berkelanjutan untuk seluruh karyawan guna meminimalkan celah kerentanan.
-
Memanfaatkan Teknologi AI untuk Perlindungan Data
Penggunaan AI dapat membantu menyederhanakan identifikasi aset penting, mempercepat analisis data ancaman, serta merespons serangan sesuai skala dan kecepatan yang dibutuhkan.
-
Perlindungan Data dan Pemulihan Cepat (Cyber Resiliency & Recovery)
Sebagaimana disampaikan oleh Mark Katz, CTO Hitachi Vantara, cyber resilience bukan lagi sekadar istilah keren untuk backup dan recovery. Ini adalah fondasi perlindungan terhadap seluruh aset data inti perusahaan agar bisnis dapat kembali beroperasi dengan cepat saat terjadi insiden.
Bersama BHp dan solusi infrastruktur data tepercaya dari Hitachi Vantara, organisasi Anda dapat memperkuat pertahanan data, meminimalkan risiko downtime, serta memastikan kelangsungan bisnis yang tangguh di masa depan. Hubungi tim BHp untuk mendiskusikan strategi ketahanan siber perusahaan Anda di Marketing@berca.co.id atau melalui whatsapp dengan klik disini
